Blog Ini Dibuat Agar Admin dan Pembaca Dapat Saling Berbagi Informasi dan Pengetahuan. Berbagi Pengalaman dan Wawasan Tentang Teknologi Informasi. Adress Home : Jl.Pendidikan Link.VII Kp.Agam Galang (SUMUT)
Kamis, 09 Oktober 2014
Mengganti Layout Facebook
Mengganti Icon Untuk Jenis File Tertentu
Mengganti Icon Untuk Jenis File Tertentu
Icon merupakan salah satu “tanda” untuk mengenali suatu jenis file. Icon-icon tersebut akan berubah sesuai dengan program yang digunakan untuk membuka file tersebut. Misalnya, untuk file dengan ekstensi .zip. Jika Anda menginstall program WinZip maka icon file .zip akan berbentuk seperti program WinZip, sebaliknya jika Anda menginstall program WinRar maka icon file .zip pun akan berbentuk seperti program WinRar.
Kalau Anda merasa bosan dengan icon-icon yang “biasa” tersebut, Anda bisa menggantinya dengan icon yang lain, baik icon bawaan program tersebut atau icon lain yang bisa Anda download secara gratis dari internet.
Untuk mengganti icon caranya sebagai berikut:
- Buka Windows Explorer
- Klik menu Tools – Folder Options
- Pindah ke tab File Types
- Pilih tipe file yang akan diganti iconnya. Misalnya Anda ingin mengganti icon file dengan ekstensi .txt (Text Document).
-

- Klik tombol Advanced. Pada kotak dialog seperti di bawah ini, klik tombol Change Icon
.
- Anda dapat memilih salah satu icon dari banyak icon yang secara default sudah disediakan oleh Windows (pada file shell32.dll). Kalau Anda ingin mengganti dengan file icon yang lain, Anda bisa mengklik tombol Browse.
-

- Kalau Anda belum punya koleksi icon-icon yang menarik, Anda bisa mencarinya di internet menggunakan search engine Google. Gunakan kata kunci “free icons”.
Beberapa situs yang menyediakan icon gratis:
- http://www.freeiconsweb.com/
- http://www.iconarchive.com/
- http://www.freeiconsdownload.com/
- http://www.iconsfree.org/
Sumber :
http://www.klik-kanan.com/mengganti-icon-untuk-jenis-file-tertentu.htm
Icon merupakan salah satu “tanda” untuk mengenali suatu jenis file. Icon-icon tersebut akan berubah sesuai dengan program yang digunakan untuk membuka file tersebut. Misalnya, untuk file dengan ekstensi .zip. Jika Anda menginstall program WinZip maka icon file .zip akan berbentuk seperti program WinZip, sebaliknya jika Anda menginstall program WinRar maka icon file .zip pun akan berbentuk seperti program WinRar.
Kalau Anda merasa bosan dengan icon-icon yang “biasa” tersebut, Anda bisa menggantinya dengan icon yang lain, baik icon bawaan program tersebut atau icon lain yang bisa Anda download secara gratis dari internet.
Untuk mengganti icon caranya sebagai berikut:
- Buka Windows Explorer
- Klik menu Tools – Folder Options
- Pindah ke tab File Types
- Pilih tipe file yang akan diganti iconnya. Misalnya Anda ingin mengganti icon file dengan ekstensi .txt (Text Document).
-
- Klik tombol Advanced. Pada kotak dialog seperti di bawah ini, klik tombol Change Icon
.
- Anda dapat memilih salah satu icon dari banyak icon yang secara default sudah disediakan oleh Windows (pada file shell32.dll). Kalau Anda ingin mengganti dengan file icon yang lain, Anda bisa mengklik tombol Browse.
-
- Kalau Anda belum punya koleksi icon-icon yang menarik, Anda bisa mencarinya di internet menggunakan search engine Google. Gunakan kata kunci “free icons”.
Beberapa situs yang menyediakan icon gratis:
- http://www.freeiconsweb.com/
- http://www.iconarchive.com/
- http://www.freeiconsdownload.com/
- http://www.iconsfree.org/
Sumber :
http://www.klik-kanan.com/mengganti-icon-untuk-jenis-file-tertentu.htm
Artikel Yang Terkait Dengan Mengganti Icon Untuk Jenis File Tertentu
Kamis, 02 Oktober 2014
Pengetahuan tentang alamat IP dalam Jaringan Komputer
Setiap perangkat yang berada pada suatu jaringan harus memiliki alamat IP yang unik satu sama lain, alamat IP ini digunakan sebagai identitas untuk saling berkomunikasi antar perangkat di dalam suatu jaringan. Jika anda melakukan akses internet atau browsing internet ke halaman web Google.com, sebenarnya anda sedang melakukan akses ke suatu alamat IP yang di terjemahkan oleh Domain Name Server(DNS) sebagai Google.com.
Silakan anda buka terminal dan ketik perintah:
nslookup google.com
hasilnya terlihat seperti pada tampilan dibawah ini:
nslookup google.com
hasilnya terlihat seperti pada tampilan dibawah ini:
Disitu terlihat bahwa google.com salah satunya memiliki alamat IP 173.194.38.169, perlu anda tahu bahwa IP yang dimiliki google di samping adalah alamat IP versi 4 (IPv4).
Saat ini terdapat 2 tipe alamat IP yaitu, alamat IP versi 4 (IPv4) dan alamat IP versi 6 (IPv6) dimana alamat IPv4 merupakan alamat IP yang banyak digunakan di Internet dan jaringan lokal. Karena setiap perangkat harus memiliki alamat IP yang unik di dalam suatu jaringan dan karena semakin banyak perangkat yang dibuat dan memakai alamat IPv4, maka alamat IPv4 yang tersedia juga semakin menipis. Karena itu dibuatlah alamat IPv6 dengan tujuan untuk mengatasi keterbatasan jumlah IPv4 yang telah banyak dipakai.
Jika alamat IPv4 memiliki format dengan panjang 32 bit, untuk alamat IPv6 ini memiliki format dengan panjang 128 bit. Alamat IPv4 ini direpresentasikan dari 32 bit bilangan biner yang dibagi menjadi 4 Octet yang dipisahkan dengan tanda titik atau dot. Setiap satu octet terdiri dari 8 bit bilangan biner yang kemudian ditranslasikan mejadi bilangan desimal. Misalnya saja alamat IP milik Google tadi adalah 173.194.38.169 jika ditransalasikan ke dalam bentuk biner menjadi:
10101101.11000010.00100110.10101001
*Jika anda belum memahami bagaimana melakukan transformasi bilangan biner, maka anda dapat membaca artikel saya sebelumnya yang berjudul transformasi bilangan biner - desimal.
10101101.11000010.00100110.10101001
*Jika anda belum memahami bagaimana melakukan transformasi bilangan biner, maka anda dapat membaca artikel saya sebelumnya yang berjudul transformasi bilangan biner - desimal.
Perhitungan menggunakan alamat biner ini nantinya akan digunakan untuk:
- Menentukan alamat IP perangkat
- Alamat network suatu perangkat atau sekumpulan perangkat (dalam suatu jaringan) dan
- Menentukan jumlah host yang dapat digunakan dalam suatu network atau jaringan.
Alamat IPv4 ini dibagi menjadi beberapa kelas. Yaitu kelas A, B, C, D dan E. Akan tetapi yang sering digunakan adalah kelas A, B dan C.
Blok alamat IP kelas A memiliki jangkauan alamat pada octet pertama:
Blok alamat IP kelas B memiliki identitas pada octet pertama:
Blok alamat IP kelas C memiliki identitas pada octet pertama:
sedangkan sisanya dari
Blok alamat IP kelas A memiliki jangkauan alamat pada octet pertama:
Biner: 00000000.xxxxxxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx hingga 01111111.xxxxxxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx
Desimal: 0.x.x.x hingga 127.x.x.x
Blok alamat IP kelas B memiliki identitas pada octet pertama:
Biner: 10000000.xxxxxxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx hingga 10111111.xxxxxxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx
Desimal: 128.x.x.x hingga 191.x.x.x
Blok alamat IP kelas C memiliki identitas pada octet pertama:
Biner: 11000000.xxxxxxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx hingga 11011111.xxxxxxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx
Desimal: 192.x.x.x hingga 223.x.x.x
sedangkan sisanya dari
alamat 224.0.0.0 hingga 239.255.255.255 digunakan untuk multicast address,
serta
alamat 240.0.0.0 hingga 255.255.255.254 digunakan eksperimen.
Alamat IP yang digunakan di dalam internet merupakan alamat IP Publik, yaitu alamat resmi yang terdaftar sehingga dapat diakses via internet dan tentu saja tidak boleh ada yang sama satu sama lain. Sedangkan alamat ip yang digunakan untuk jaringan lokal disebut alamat IP privat dimana setiap orang bisa menggunakannya dan alamat privat ini biasanya tidak dapat diakses di internet.
Blok alamat IP privat terdiri dari alamat:
alamat 240.0.0.0 hingga 255.255.255.254 digunakan eksperimen.
Alamat IP yang digunakan di dalam internet merupakan alamat IP Publik, yaitu alamat resmi yang terdaftar sehingga dapat diakses via internet dan tentu saja tidak boleh ada yang sama satu sama lain. Sedangkan alamat ip yang digunakan untuk jaringan lokal disebut alamat IP privat dimana setiap orang bisa menggunakannya dan alamat privat ini biasanya tidak dapat diakses di internet.
Blok alamat IP privat terdiri dari alamat:
- 10.0.0.0 hingga 10.255.255.255
- 172.16.0.0 hingga 172.31.255.255
- 192.168.0.0 hingga 192.168.255.255
Selain itu terdapat alamat IP yang digunakan untuk keperluan khusus, seperti:
- alamat LoopBack: 127.0.0.1 setiap paket yang dikirimkan ke alamat IP ini maka paket itu akan kembali ke dirinya sendiri
- Alamat Local-Link: 169.254.0.0 hingga 169.254.255.255, akan digunakan oleh host/perangkat secara otomatis apabila pada perangkat tersebut tidak mendapatkan alamat IP dari server DHCP.
- Alamat 192.0.2.0 hingga 192.0.2.255 digunakan untuk pembelajaran.
Ketiga tipe blok alamat IP khusus tersebut apabila digunakan dalam suatu perangkat, maka paket yang dikirimkan tidak akan diteruskan oleh router. Sehingga hanya bisa digunakan untuk berkomunikasi dalam satu jaringan saja (tidak bisa digunakan untuk berkomunikasi dengan perangkat lain yang berada di luar jaringan walapun menggunakan router).
Mudah bukan? hmmm pada tulisan berikutnya yang berjudul "Fungsi netmask pada alamat IP di dalam jaringan komputer" saya akan membahas tentang alamat netmask dan dipadukan dengan alamat IP untuk menentukan alamat network, alamat host serta berapa banyak alamat IP yang bisa digunakan dalam suatu network.
Sumber :
Pengetahuan tentang teknologi harddisk RAID
Apa itu RAID ? RAID merupakan singkatan dari Redundant Array of Independent Disk adalah sebuah teknologi storage (media penyimpanan) yang menggunakan kombinasi beberapa hard drive menjadi satu kesatuan unit yang bertujuan meningkatkan performa data dan redundansinya. Dengan cara ini, data yang tersimpan akan didistribusikan lintas hard disk dengan beberapa cara atau yang umumnya disebut dengan pelevelan RAID.
RAID sekarang banyak digunakan dengan berbagai skema untuk melakukan penyimpanan data di komputer. Dengan RAID, data yang disimpan akan di bagi dan di replikasi ke dalam beberapa drive fisik pada harddisk. Skema atau arsitektur pada tiap-tiap level RAID yang digunakan dibedakan dengan kata RAID diikuti dengan angka (misalnya RAID 0, RAID 1 dan lain-lain). Setiap skema menyediakan perbedaan keseimbangan antara reliabilitas, ketersediaan, kapasitas dan performa. RAID dengan arsitektur level diatas RAID 0 menyediakan fitur proteksi data (fault tolerance) melalui metode paritas (parity) terhadap kesalahan pembacaan sektor pada hardisk yang tidak dapat di perbaiki hingga kerusakan fisik seluruh hardisk.
Fault tolerance yang dimaksud adalah jumlah maksimum hardisk rusak dalam skema yang mampu ditoleransi sehingga tidak akan mempengaruhi data yang disimpan.
Standart Level RAID untuk skema penyusunan Harddisk (sampai pada saat ini) ada level 0 -6 dan 10, hanya saja saya hanya akan membahas beberapa level yang umum digunakan end user (termasuk saya) seperti yang saya sebutkan di bawah:
RAID 0 : Pada level ini, skema RAID 0 menggunakan metode stripping untuk penyimpanan datanya dan tidak menyediakan fitur redundansi data dan toleransi kesalahan. RAID level ini mampu meningkatkan performa pembacaan dan penulisan data secara paralel karena penyimpanan data akan disebar lintas hardisk (jika menggunakan beberapa harddisk) yang di konfigurasi dengan skema ini. RAID 0 tidak memiliki mekanisma deteksi kesalahan, sehingga ketika ada satu hardisk yang rusak, maka data yang disimpan di dalam hardisk tersebut juga hilang / tidak terbaca.
![]() |
| Skema Penyimpanan Data RAID 0 |
- Jumlah minimum hardisk yang dapat digunakan : 1 Harddisk
- Fault Tolerance : Tidak ada
- Kapasitas maksimum harddisk: sejumlah hardisk yang dikonfigurasi RAID 0Misalnya anda menggunakan 2 buah Hardisk 1 TB (total 2TB) maka ketika keduanya dikonfigurasi dengan RAID 0, maka dapat dijadikan 1 buah partisi besar dengan total kapasitas 2TB (bukan 1TB dan 1 TB) seperti ketika anda menggunakan LVM (Logical Volume Manager).
RAID 1: Pada level ini, data yang disimpan akan di mirror / di cerminkan tanpa menggunakan paritas atau metode stripping. Data akan ditulis dan disimpan secara langsung ke dalam 2 atau lebih harddisk (berikut hardisk yang berfungsi sebagai cermin). Biasanya jumlah hardisk yang digunakan pada level ini berjumlah genap. Performa kecepatan penulisan data pada hardisk juga dapat menurun karena setiap drive harus selalu melakukan update data sehingga dapat dikatakan RAID pada level ini memiliki performa penulisan yang terburuk di banding level lainnya tetapi memiliki fault tolerance terbaik diantara level lainnya.
![]() |
| Skema Penyimpanan data RAID 1 |
- Jumlah minimum hardisk yang digunakan: 2 Harddisk
- Fault tolerance: Ada
- Jumlah minimum fault tolerance harddisk: n-1Misalnya RAID 1 menggunakan 2 hardisk (n=2), maka fault tolerance dari rumus n-1 => 2 -1 = 1 harddisk.
- Kapasitas harddisk yang tersedia: 1/nMisalnya anda menggunakan 2 buah hardisk sebesar 1TB (total 2TB), maka kapasitas yang tersedia setelah dikonfigurasi menggunakan RAID 1 = 1/n * 2TB => ½ * 2TB = 1TB
RAID 5: Pada level ini, penulisan data menggunakan metode stripping dan informasi paritas yang didistribusikan ke seluruh harddisk. Jumlah maksimum hardisk rusak yang dapat ditoleransi adalah satu buah, dimana data yang disimpan tidak akan rusak saat salah satu dari ketiga hardisk tersebut mengalami kerusakan, tetapi akan mengalami penurunan performa kecepatan baca dan tulis ke kedua harddisk sisanya selama hardisk yang rusak tersebut belum di ganti (replace).
![]() |
| Skema Penyimpanan Data RAID 5 |
- Jumlah minimum hardisk yang digunakan: 3 Harddisk
- Fault tolerance: Ada
- Jumlah maksimum fault tolerance harddisk : 1 Harddisk
- Kapasitas harddisk yang tersedia: 1- (1/n)Misalnya anda menggunakan 3 buah hardisk sebesar 2TB (total 6TB), maka kapasitas yang tersedia setelah dikonfigurasi menggunakan RAID 5 = (1 - (1/n)) * 6TB => (1 – (1/3) )* 6TB = 4TB
RAID 6: Pada level ini, RAID 6 memiliki kesamaan teknologi seperti pada level 5, hanya saja memiliki keunggulan fault tolerance, karena menggunakan double paritas yang memungkinkan jumlah kerusakan hardisk yang dapat ditoleransi mencapai maksimum 2 buah. Data yang disimpan tidak akan rusak saat salah satu sampai kedua buah dari keempat hardisk tersebut mengalami kerusakan, tetapi akan mengalami penurunan performa kecepatan baca dan tulis ke seluruh sisa harddisk selama hardisk yang rusak tersebut belum di ganti (replace).
![]() |
| Skema Penyimpanan Data RAID 6 |
- Jumlah minimum hardisk yang digunakan: 4 Harddisk
- Fault tolerance: Ada
- Jumlah maksimum fault tolerance harddisk : 2 Harddisk
- Kapasitas harddisk yang tersedia: 1- (2/n)Misalnya anda menggunakan 4 buah hardisk sebesar 1TB (total 4TB), maka kapasitas yang tersedia setelah dikonfigurasi menggunakan RAID 6 = (1 - (2/n)) * 4TB => (1 – (2/4) )* 4TB = 2TB
RAID 10: Merupakan kombinasi dari skema RAID 1 dan RAID 0 atau sering disebut dengan nested RAID (Raid bertumpuk/bersarang), skema ini memungkinkan penggunaan skema RAID 0 yang dijalankan diatas RAID 1. Minimum jumlah Harddisk yang digunakan adalah 4 Harddisk yang disusun seperti pada gambar di bawah. Penggunaan skema nested RAID ini dimaksudkan agar memperoleh performa kecepatan baca tulis yang dimiliki oleh skema RAID 0 dengan metode proteksi RAID 1.
![]() |
| Salah satu contoh skema nested RAID yaitu RAID 10 |
Skema RAID dapat diimplementasikan secara hardware dan atau software. RAID hardware atau disebut dedicated RAID adalah penyusunan skema RAID menggunakan perangkat keras khusus yang dipasang di antara Harddisk dengan Mainboard. RAID Software adalah penyusunan skema harddisk melalui perangkat lunak (Volume Manager, Operating System, File System). Sebagai contoh operating system, Ubuntu server juga menyediakan penyusunan skema RAID ketika anda melakukan proses partisi saat melakukan instalasi system pertama kali.
Sumber :
Langganan:
Postingan (Atom)







